"Sugawa..., bagun tho le...".
Bukan matahari yang terlalu cepat datang sehingga membuat wanita paruh baya ini, menggedor-gedor pintu sebuah kamar, tapi tentu saja karena pemuda yang ada di dalam masih nyaman dengan pelukan sarung kusut membungkus seluruh tubuhnya. Tak ubahnya kepopong. Padahal jam sudah bergulir menunjuk pukul sepuluh pagi dan menyeret matahari pada sepenggalan siang. "Tangi tho le, wes ra patut. Joko segede kowe jam semene seh ngenthong wae, po ra isin karo pithik mu. Tangi tangi....". Ya begitulah rutinitas ibu Rahayu, harus membangunkan anak ke enamnya yang sudah bukan bocah lagi. Di usianya yang ke duapuluh dua. Sugawa belum juga bisa mandiri. Bahkan seperti anak kecil, tingkahnya yang kekanak-kanakan serta sifat malasnya yang nggak ketulungan selalu membuat jengkel seluruh anggota keluarga.
#######
"Sugawa, tangi tho le....". Entah kali keberapa bu Rahayu menggedor pintu kamar anaknya. Jika sudah begitu, bu Rahayu biasanya memilih untuk menyerah, tapi kali ini tidak. Bu Rahayu masih tetap bersikukuh dengan kesabarannya. "Le, tangio, ono tamu golek'i kowe. Cepet tangi!". Kali ini bu Rahayu lebih sabar dengan suaranya yang lebih rendah. "Sek tho bu, limang menit wae. Sih ngantuk banget ik...". Ujar Sugawa dari dalam selimut dengan suara paginya yang tak bersemangat. "Halah, gek ndang tangi. Lek Umar ngeteni neng ruang tamu, digolek'i barang kok. Ra sopan. Mesakke lek mu adoh-adoh mrene wes gek ndang tangi. Raup yen perlu adus sek kono. Cepet....!". Sugawa bangkit dan keluar dari sarung. Seperti kupu-kupu kusut yang keluar dari kepompong. Diseretnya langkah menuju kamar mandi. Benar benar tak karuan. Wajah tampan itu tertutupi tampang kucel pemalas...
Senin, 03 September 2012
Teacher Otsugawa #1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
bagus mas, Lanjutkan.!
BalasHapusmam kok ga ngepost lagi...?
BalasHapuskapan kapan ane ngepos lah
BalasHapusditunggu lanjutannya, Sir.
BalasHapus