Kemenangan,
Kejayaan, kesuksesan, kebesaran dan kebahagiaan siapa yang tak
menginginkan? Semua, sebagai manusia sempurna mendambakan hal itu.
Hanya saja meski tak seluruhnya menyadari, untuk menggapai itu semua
tak sesederhana yang kita pikirkan, tak semudah teori yang tertuang
dalam tumpukan buku-buku.
Dalam firman-Nya, terlihat
bagaimana karakteristik orang yang hendak diberi keberkahan hidup
oleh Allah.
Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah 155)
kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah 155)
Dilanjutkan dengan
firman-Nya
Mereka Itulah yang
mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan
mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah
157)
jelasnya, indikasi hidup
berkah itu datang seusai adanya berbagai ujian pahit dan getir.
Sering kali untuk mendapat kesuksesan mesti ada kegagalan menghadang
jalan, untuk meraih kemenangan mesti kita harus merasakan getirnya
kekalahan. Ketika kita mendambakan hidup bahagia mesti ada musibah
yang membentur angan kita.
Prosesi
semacam ini pasti di rasakan tiap anak adam. Dalam hal ini Allah
telah memberi contoh yang cukup kongkrit, berkaitan orang yang
menginginkan surga, sudah menjadi niscaya bahwa ia akan di uji.
Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankah datangnya
pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu
Amat dekat.(QS. Al-Baqarah 214.)
Pertolongon
Allah Bagi Penyabar
Allah mengingatkan kita
dengan firman-Nya
Jadikanlah sabar dan
shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al-Baqarah
45)
Masih ingat betapa sengitnya
perang badar? begitu dahsyat jiwa orang-orang besar itu saat mendapat
kemenangan telak, dengan jumlah dan persenjataan ala kadarnya dengan
niatan awal menghadang kafilah Musyrikin Quraisy namun justru pasukan
perang Makkah yang mereka hadapi, manusia manusia berjiwa besar itu
tak lantas mundur dari medan perang, tak juga mengambil langkah
konyol, kesabaran menuntun mereka ke medan laga. Menang atau kalah
telah ditetapkan oleh pemilik semesta ini. Akhirnya Allah pun bersama
orang-orang yang sabar.
Berbeda dengan tragedi
uhud, akibat ketidak sabaran, kemenangan yang tinggal selangkah
berubah menjadi mimpi buruk.
Dari
Rahim Kesabaran
Seorang filosof berujar:
“Bila tekad kuat adalah
ayah kebesaran (kemenangan, kesuksesan) maka ibu orang-orang besar
adalah kesabaran”
Mari
kita belajar dari sejarah orang orang besar. Karena dari sejarah kita
mengenal mereka beserta jerih payahnya perjuangan tuk menggapai
kesuksesan.
Kita
ketahui bagaimana sejarah menceritakan orang-orang besar yang lahir
dari rahim kesabaran. Imam syafi’ie meski misikin nan papa tetap
menjadi ulama mahir yang tak ada duanya. Untuk menulis saja beliau
harus memunguti kertas-kertas bekas dan pelepah kurma. Beliau
bercerita:
“Dahulu aku menyimak guru
yang mengajarkan para muridnya dan aku menghafal apa yang
dikatakannya. Sedangkan ibuku tidak punya apa-apa untuk membayar
guru. Aku adalah seorang anak yatim. Guruku itu juga membolehkanku
untuk ikut bersamanya. Para murid menulis. Sebelum guru tersebut
selesai dari mendiktekan, aku telah terlebih dahulu menghafalkan apa
yang aku tulis. Setelah pulang, aku mengutip tembikar, pelepah kurma
dan tulang unta. Aku menulis hadits padanya dan aku pergi ke tempat
belajar sambil mencari sisa-sisa kertas dan aku menyalinnya hingga
penuh gentong milik ibuku dengannya.”
Perjuangan
yang tak kenal lelah itu telah menjadikan beliau sebagai seorang yang
memiliki ilmu yang mendalam hingga akhirnya beliau menjadi Imam kaum
Muslimin.
Imam ahmad, jika terkadang
tak ada uang tersisa, baju pun beliau gadaikan. Para ahli hadits
dahulu untuk mendapat satu hadits saja harus melakukan rihlah yang
jaraknya bermil-mil padahal kala itu belum ada kendaraan seperti saat
ini, adakalanya bekal mereka tak cukup tuntuk menghidupi diri dalam
perjalanan tersebut.
Amsal
lainnya yang sangat fenomenal adalah kisah perjalanan dakwah Nabi
beserta sahabatnya.
Bukan hal yang mengejutkan
bila Michel Hart menulis dalam buku 100 manusia yang paling
berpengaruh di dunia. Bahwa Nabi Muhammad SAW menjadi orang nomor
satunya. Beliau bukanlah anak yang manja, meski sejak lahir begitu di
cintai orang sekelilingnya, ketika masa muda beliau bukanlah sosok
yang hura-hura, tidak. Tapi beliau adalah hamba yang telah di
siapkan menjadi penutup para nabi dan rasul. Sejak kecil beliau
telah jatuh bangun di tempa berbagai ujian. Hingga dalam perjalanan
dakwah sekalipun tak pernah luput dari cobaan dan ujian.
13 tahun lamanya hidup di
makkah terasa mencekam bagi Rasulullah dan kaum muslimin, dakwah
islam begitu sulit, bagaimana tidak? Tak henti-hentinya orang-orang
QURAISY merancang konspirasi, berbagai pertemuan di gelar, tiap tiap
orang memberikan kontribusi dalam bentuk apapun untuk menghentikan
laju dakwah Islam.
Ada Abu
Lahab, paman sekaligus besan nabi ini aktif sekali dalam hariannya
menguntit Nabi dikala pergi berdakwah, tujuannya satu, tuk
mendustakan beliau dihadapan manusia. Ada pula istri Abu Lahab, Ummu
Jamil yang karena gemarnya mengganggu dan menjaili beliau lantas
Allah menggelari istri abu Lahab ini dengan pembawa kayu bakar. Uqbah
bin Abu Mu’ith lebih bengis lagi, ia paling sering menyakiti
beliau, amat gemar mgotori Nabi dengan kotoran unta disaat beliau
tengah shalat. Hingga klimaks dari konspirasi orang-orang Quraisy
adalah dengan rancana pembunuhan utusan Allah ini.
Beliau pernah secara pribadi
mengisahkan:
Sungguh
aku pernah di sakiti karana memperjuangkan dien Allah dan tiada
seorang pun yang pernah dibuat takut sepertiku, pernah pula berlalu
tiga hari tiga malam sedangkan aku dan keluargaku tak memiliki
makanan yang dapat dimakan hewan sekalipun selain kain yang hanya
bisa menutupi ketiak bilal. (HR. Ahmad)
Akhirnya
lelah letih itu ketika dilalui dengan tabah dan tegar menuai hasil
gemilangnya islam sejak hijrah menuju Madinah Al-Munawwaroh. Kemudian
Allah limpahkan kejayaan islam itu dengan menguasai hampir sepertiga
bumi. Islam menjadi perdaban yang gemilang karena terlahir dari
rahim kesabaran di benihi oleh tekad kemenangan.
Wahyu
kemenangan itu Allah ungkapkan dalam firmanNya:
Dan Kami
jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini
ayat-ayat kami.(QS. As-Sajdah: 24)
Benar apa yang dijanjikan
Rasulullah pada Khobab bin Art.
Suatu ketika khobab bin Art
menghadap nabi, ia adukan berbagai hal tentang penyiksaan orang-orang
Quraisy terhadap dirinya:
Aku
mendatangi Rasulullah, ketika itu beliau tengah berselimut diserambi
ka’bah. Dan aku mendapatkan perlakuan kejam dari kaum musyrikin.
Lalu aku mengadu padanya: wahai rasulullah, tidakkah anda sudi
memohonkan doa kepada Allah untukku? Beliau lantas duduk dan merah
wajahnya, lalu berkata: sungguh telah ada sebelum kalian, seseorang
yang disisir dengan sisir-sisir besi sehingga menembus daging dan
tulangnya, tapi yang demikian itu tak memalingkan ia dari diennya/
ada yang di gergaji dari tengah-tengah kepalanya hingga tubuh
terbelah dua, namun demikian itu tak memalingkan ia dari diennya.
Pasti allah akan menyempurnakan dien ini, hingga pengendara dapat
berjalan dari shan’a ke hadramaut dengan tiada yang di takuti
kecuali Allah Azza Wajalla. (HR. Al Bukhari)
Demikian nabi melihat janji
Allah yang seakan telah dekat, janji yang tertabiri ujian itu takkan
tersinggkap selagi kaum muslimin tak sabar menunggu kemenangan yang
amat dinanti.
Dalam Al Insyiroh, Janji
itu tertulis:
Bukankah
Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, Dan Kami telah menghilangkan
daripadamu bebanmu, Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan
bagimu sebutan (nama)mu. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu
ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(QS.
Al Insyiroh: 1-6)
Allah juga
mengingatkan kita dengan firman-Nya
Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka
Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sungguh Dia
mengetahui orang-orang yang dusta .(QS. Al-Ankabut;2-3)
(Maka bersabarlah)
karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan
padanya kebaikan yang banyak.(Qs. An-Nisa’: 9)
Allah
memilah milah dengan ujian itu siapa yang teguh saat diuji dan siapa
mu’min sejati. Karena Dia hendak memilihnya didunia (Allah
menegaskannya dalam QS. As Sajdah:24) dan memberikan kebaikan pada
mereka kelak di akhirat.
Pepatah arab mengatakan:
Kesabaran itu ibarat
brotowali yang berasa pahit, akan tetapi akibatnya lebih manis lagi
dari pada madu.
Wallahu Musta’an (Pesisir
Utara 23-11-2011)
COMUNITAS APRESIASI SENI SASTRA DAN ILMIYAH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar