Halimun
raya yang terkadang memekat malam ,lenyap malam ini ,malam ini tampak
lebih aneh dari sebelumnya .gelgar petir yang menggetar getar
alam,sekilas kemilau memotret mayapada ditengah sunyian.mendung
kelabu,namun sunyian itu hanya mimpi ,saat pecah suara jerit jerit
balita yang menghiba ,kesenduan anak-anak dalam dengung kebingungan
,serta pekik histeris wanita wanita janda.
Gemuruh
petir petir itu hanya dongeng belaka,dentuman dentumen angkara memecah
lamunan menjadi kisah nyata kepedihan bagi perkotaan sepi, seolah
seperti kota mati.
Kota
itu seram.bulukuduk berdiri,bukan karena dedemit dan makhluk halus
yang menjadi obsesi.namun kecekaman angkara yang mengaumdang bergejolak
,kota
itu menjadi saksi kesenyapan terurainya ruh-ruh suci. darah darah
memuncrat hiasi dinding-dinding bangunan lusuh,mengotori cat cat yang
hamir memudar warnanya, kerikil, bebatuan pun kuyup oleh merah darah…..
"abi…abi…"terdengar suara terisak isak dari sosok bocah ingusan, baju
putihnya nyaris coklat penuh kepulan debu,malam sepi tak ada siapa
siapa selain dia dan sosok tubuh yang tergeletak tanpa nafas, darahnya
masih mengalir.
"ogh, abi……. Jangan mencandaiku malam ini, aku takut"dasehnya beriringan senggugu pilu
"abi, ummi sudah siapkan makanan tuk buka, ayo pulang" keadaan
mencekam ia nerengek sembari menarik lengan sosok diam itu,.namun ia
gagal.
Beberapa
jam kemudian beberapa orang bersragam rapih bercorak tentara, serta
tersemat kain putih kalimat syahadat didahinya,mendekati bocah kecil
pemecah malam itu,membelai rambut ikal yang penuh kebulan debu.
"paman kenapa abi tak mau bicara padaku, ia terus diam." tatihnya dalam senggukan.
Tentata-tentara itu masih bungkam
"Namamu siapa nak"salah seorang diantaranya membuka suara
"Ezza jundurrohman"
"namamu
bagus,ah, ayah mu ezza tersenyum padamu.tapi… kalau kau tersenyum
pula, sayang sedari tadi ia mendengarmu hanya menangis dihadapannya"
"Tapi, abi diam paman"
"karena ia tak mau bicara saat kau menangis"
Ezza termenung sebentar kemudian tersenyum,menyembunyikan sesuatu dari balik itu.
****************
"ummi, kata mulla jawed, sekarang abi tengah berbulan madu di perut burung hijau, apa boleh ya kalau aku ikut"
Ibu hanya tersenyum pahit,matanya nanar,dan akhirya tumpah jua, tak sanggup menatap keluguan anaknya.
"boleh, pasti boleh"ujarnya lirih
"mengapa ummi nangis"ezza, bocah kecil itu bertanya keheranan
"ah, tidak ummi hanya senang, kamu tahu abi sedang bahagia."
Ezza
mengangguk, tersenyum kecil. Tak lama kemudian ia tertidur pulas dalam
pangkuan ibunya. Mata ummi ezza nanar setiap kali menatap keluguan
anaknya, ezza selalu saja mengangguk saat ia menjelaskan sesuatu,
kendati jawabannya mungkin tak masuk diakal, seandainya ia tahu…….
Ezza anakku engkau lah jundiku, kelak bila engkau besar,perangilah bangsa penindasmu ….. itulah kata kata yang terukir saat mendekap, saat menatap, saat-saat setiap saat teringat pada ezza.
"untuk para pengungsi agar segera bargegas , pegi sementara, sebab
pesawat pesawat penjajah akan segera menghampiri kamp pengungsian"
pekik seorang perajurit pejuang, dibelakangnya terdapat tiga orang
mengawal,masing masing memegang M16,PRG, klasnov dan granat yang
melilit dipinggang.
-(@@@@@@@@@@@@@@@@@)-
Kamis
pekat malam, lazuardi terhampar dikelilingi bebintang, tampaknya tak
ikut tersendu, takpula menyapa orang orang yang terduduk lesu menatap
dengan titik titik rinai mata, yah tenda-tenda lusuh itu sebagian
besar hangus , satu seorang kakek yang terkapar sakit didalamnya turut
hangus pula dilahap api, siapa yang sanggup membendung air mata?
"Ummi,
ummi, bangun.sebaiknya kita berjaga agar tenda kita tidak dirusak lagi
seperti tempo hari" rengek ezza di kesepian malam.
Dalam arloji yang diperlihatkan ummi e-Ezza saat menyingkap lengan jarum menuding pada jam dua malam.
"Ummi tidak tidur Ezza,.. ummi hanya …."belum habis kata kata itu
dikagetkan sebuah derum kendaraan, dari kejauhan terlihat beberapa
hummer dan truk , berjalan menyorot ke perkemahan
ibu ezza panik, segera memeluk erat anaknya , matanya tertatap tajam pada kedatangan hummer itu
Ummi, mengapa ?"
Pelukan itu tambah erat belum terdengar suara dari mulut ibunya
"Bruk"
Sebuah
suara pijakan saat beberapa orang keluar dari mobil. Ezza sedikit
berontak karena ingin melihat apa yang akan terjadi. Semakin mendekat,
semakin terdengar hentakan kakinya, ezza segera memestikan beberapa
orang dalam bayangan gelap itu
" Ummi itu, itu orang yang kemarin mengantarku kemari. Mereka pejuang!"pekik ezza kegirangan
"masyaallah" ibu ezza menghela nafas lega , bayang bayang penjajah bengis lenyap sesaat kemudian.
"barangkali mereka mendapat kemenangan." Ujarnya.
Pekikan ezza tadi ternyata membangunkan beberapa orang yang tengah tertidur
"ada apa ummi ezza ?" Tanya ummi farhan.
"serdadu serdadu pejuang sepertinya mendapat kemenangan, dan bukan kah hummer hummer itu seharusnya milik penjajah?"
Ummi farhan mengangguk,"sepertinya begitu,Allhuakbar". Kemudian bangun lagi beberapa orang lainnya.
Takbir bergema malam ini, tenda tenda hangus itu sebagai saksi.
Malam
ini dan beberapa anak kecil lainnya seperti jawed,sayaf,dan idris
senyap mendengar kisah kisah pejuang,paling banyak kisahnya dari abu
Mohammed Ibrahim salah seorang pengantar ezza ke perkemahan hingga
tanpa dinyana disana ada ibunya saat ini kebetulan Abu Mohammad turut
dalam tim oprasi militer
"khol, mengapa ceritanya berhenti"?tanya jawed penuh kecewa.
"eh,
enggak, khol hanya khawatir,kalau kalian lebih semangat berjuang dari
khol dan lebih dulu syahid,sehingga merebut bidadari bidadari
milikku"kata abu mohammad ibrahim sembari tertawa. anak anak kecil pun
ikut tertawa mendengar candanya
Tak
ada satu jam serdadu serdadu pejuang itu pamit pada para pengungsi,
beberapa pejuang menangis saat melihat keadaan pengungsi yang
memilukan.
"do'akan kami semoga senantiasa mendapat pertolongan-Nya"
"insyaallah"serentak beberapa orang menjawab.
"Assalamu'alaikum"pamit Abu Rakdurrahman sebagai komandan serdadu pejuang."wa'alaikumsalam".
26 Dzulhijah 1428
Siang
ini sangat terik serupa hari hari sebelumnya terlihat beberapa anak
belasan tahun tersemat pada wajahnya sorban merah yang membungkus
menyisakan sepasang mata, mondar mandir disekeliling tanah membukit,
sembari mengutip ngutip sesuatu yang terkapar diatas tanah. Ah, mereka
kecil kecil pejuang ternyata tengah dinding-dinding menjulang tinggi
dan terbentang luas seperti tembok berlin.
Disisi lain tempat para pengungsi senyap tak ada orang penghuninya
tengah terpogoh pogoh berusaha menenggelamkan diri dalamkekosongan kota mati, menghilang darijangkauan patroli bringas.
Kali ini terdengar beberapa pesawat siap meroket, kecekaman yang berurat nadi dibalik kota mati " ummu nazet apa tidak sebaiknya kita lari"kata seorang wanita setengah berbisik didekat ummu Ezza
"bah, kita bukan bangsa pengecut"tandas ummu nazet bernada tinggi.
"eh jangan terlalu keras, ingat kita semua ini dalam pelarian"ujar ummu Ezza pelan
"Oh,….. " mendengar itu ummu Nazet jadi malu
Tank itu berlalu terlalu jauh, beruntung karena tak sempat mendengar suara lantang tadi.
"Ops,tida….k."beberapa orang ikut terperangah saat pesawat membombardir bangunan kota. Ezza dipanggul ummi lari bersama lainnya.
"Ummi, ummi…. Ummi… "tangis Ezza ketakutan saat api menjalar disegala arah
"Tenang Ezza ….Insya Allah kita selamat "kata Ummi Ezza meyakinkan.
"BLUM..."Ezza melihat sesuatu menghantam sayap salah satu pesawat , Ezza dalam bopongan Ummi tak habis pikir .
''Tadi apa ya ?" lirihnya.
"ada apa Ezza ?tanya Ummi.
"Ummi tadi aku lihat sesuatu menghantam saya pesawat jahat itu "? jelasnya .
Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh di perbukitan Refah satu kilo dari kota.
Sedangkan dua pesawat lainnya melihat pesawat rekannya jatuh
porakporanda, kemudian keduanya lenyap dari langit merah Palestina.
Para pengungsi bersyukur lega , sementara Ummi dan Ezza duduk di teras sebuah rumah yang telah usang oleh kepulan debu.
"Ezza,kamu
masih ingat kisah raja Abrahah ketika hendak menghancurkan Ka'bah,tapi
kemudian dating pasukan Ababil menyelamatkan Ka'bah dari pasukan
Abrahah, karena ketika itu tak satupun orang henda menyelamatkan Ka'bah
dari pasukan Abrahah, oleh sebab itu Allah mengirimkaan se
rdadu-serdadu langit berupa burung-burung Ababilbersenjata
kerikil-kerikil neraka untuk berperang".
"Iya Ummi"jawab Ezza.
''Apa tadi juga serdadu-serdadu langit yang menolong kita ?''
Ummi mengangguk Ezza pun tersenyum puas dan bangga. Ummi tersenyum
padanya .ah, tak aapalah agar ia semangat sesekali mendongeng
padanya.gumam Ummu ezza dalam hati.
Dipancaroba pelajaran _11102009_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar