Dalam menanamkan rasa empati, cinta, kasih saying, dan ukhuwah ada
banyak cara yang bisa di tempuh secara syar’I, salah satunya ialah dengan
menebarkan salam, Salam menjadi pilihan utama, di utamakan dari amalan yang
lain sebab ia merupakan tips yang amat manjur
serta terjamin keberhasilannya. Rosululloh sendiri yang menjamin, di
suatu hari beliau pernah bersabda :
“Kamu kalian tidaklah akan masuk
surga selagi belum beriman dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling
mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu
mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian”.
Sekelumit kata “Assalamu ‘alaikum
warohmatullohi wabarokaatuh” ringan bila kita ucapkan namun menyimpan
kandungan berkah, menumbuhkan benih -benih cinta persis yang disampaikan Nabi
dalam hadits tersebut.
SANG PENEBAR BENIH CINTA
Tentu saja apa yang beliau sampaikan tak semata anjuran beribadah,
justru nabi sendiri menjadi manusia nomor wahid
yang gemar menebarkan salam. Lantas tak ayal bila beliau begitu dicinta
dan di elu-elukan oleh sahabat-sahabatnya kala itu, itulah timbal balik sebuah
kebaikan.
Sebuah riwayat dari anas r.a (ia adalah sahabat yang masa kecilnya
menjadi pelayan rosululloh saw): “ Apabila
nabi mengatakan suatu perkataan beliau
mengulanginya sampai tiga kali, sehingga benar-benar dapat dipahami dan apabila
beliau mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam pada mereka sampai
tiga kali. ( HR. Bukhori)
Ada kesaksian dari salah seorang sahabiyah ia bernama asma’ binti yazid
“ Suatu hari nabi melewati sekelompok wanita
sedang duduk di masjid, beliau melambaikan salam dan mengucapkan salam”.(HR.
tirmidzi). Itulah sebagian kesaksian
yang sedikit menggambarkan sketsa sang penebar benih cinta, kemudian kebiasaan
ini melekat erat dalam jiwa para sahabat beliau, semisal Abdulloh bin umar
sahabat yang begitu cermat meneladani yaumiyah rosululloh. Thufail bin ubay bin
ka’ab pernah menceritakan satu hal pada kita :
“Pada suatu hari saya datang
ketempat abdulloh bin umar, kemudian ia mengajak saya kepasar, maka saya
berkata kepadanya “ apa yang kamu lakukan di pasar nanti karena kau tidak akan
membeli sesuatu, tak mencari apapun juga tak menawarkan satu barang pun, dan
tak pula duduk di pasar? Lebih baik kita duduk disini dan berbincang-bincang
saja”, Abdulloh menjawab, “ wahai Abu
bathn (Thufail memiliki perut yang
besar) kita kepasar untuk menyebar luaskan salam, kita mengucapkan
kepada siapa saja yang kita jumpai”. Demikianlah begitu indah apa yang dikatakan Ibnu Umar.
SALAM ADALAH DO’A SALAM MERUPAKAN PENGHORMATAN
Dulu Gus dur pernah berhasrat mengganti kalimat salam menjadi “selamat
pagi, selamat siang atau kata-kata yang senada “ Argumentnya simple, kalimat “ Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh”
merupakan kebiasaan salam orang arab , tidak lebih. Lantas apa salahnya jika
orang Indonesia menggunakan salam dalam konteks ke-indonesia-annya misal “Selamat pagi” menurut Gusdur ini adalah salah dalam konteks ke-
Indonesia-an. Spontan hal itu di sambut kritik pedas dari jutaan muslim
Indonesia.
“Assalamu’alaikum” bukanlah
produk budaya arab, salam adalah Syari’at Allah yang pertama kali Allah
perintahkan pada Adam a.s , Nabi pernah mengisahkan kita tatkala Allah
menciptakan Adam a.s, Allah berfirman “ Pergilah dan ucapkan salam kepada para
malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlah jawaban mereka padamu,
karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan
bagi anak cucumu , maka Adam mengucapkan” Assalamu’alaikum “ mereka menjawab
“Assalamu’alaikum warohmatulloh” mereka memberi tambahan “ warohmatulloh”. ( H.R
Bukhori dan Muslim )
Selain menjadi sebuah Syari’at, salam menyimpan banyak hal yang
diantaranya sebagaimana telah Allah firmankan bahwa ia merupakan penghormatan juga
menumbuhkan rasa empati, dan salam pula merupakan sebuah Do’a.
Itu sebabnya semakin paripurna salam yang kita sedekahkan, makin
berlipat pula ganjarannya. Sahabat ‘Imron bin Hushain menyampaikan sebuah
hadits : Ada seorang yang datang kepada
Nabi SAW dan mengucapkan “Assalamu’alaikum” maka salam itu dijawab oleh beliau “sepuluh”,
usai itu datang lagi seorang seraya mengucapkan “Assalamu’alaikum
warohmatulloh” salam itu dijawab oleh nabi dan ia duduk beliau bersabda “dua
puluh”, usai itu datang lagi seseorang seraya mengucapkan “Assalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokaatuh “ beliau menjawab salamnya , orang itu duduk lantas
nabi bersabda “ tiga puluh”.(H.R Abu dawud)
BE BEST MOSLEM ...!
Amat penting bagi kita tuk coba meneladani para salafush-sholeh, serupa
kegilaan ibnu umar meneladani akhlaq Rasulullah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, datang seorang sahabat bertanya pada Rosulullah
bagaimanakah islam yang baik ? Beliau menjawab “ Yaitu engkau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang
kamu kenal maupun yang tak kamu kenal (H.R Bukhori dan Muslim).
Barang kali itulah pedoman yang hendak di teladani ibnu umar menjadi
muslim terbaik dan menebarkan benih cinta di tiap lubuk hati insan beriman.
Dan kita sebagai umat akhiruz-zaman
Kita sebagai umat sang utusan
penerima wahyu Al-quran
Kita sebagai umat pilihan
Teladanilah Rosulullah selayaknya ibnu umar mneladani Nabinya
Teladanilah beliau seumpama anak meneladani orang tuanya
BE BEST MOSLEM………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar