Minggu, 13 November 2011

Langit Tertawa

Ku tatap di kelamnya malam
Jarum jem dinding terus berdetak
dan berdetak:

Kurasakan angin malam;
menerpa selalu tapi slalu berganti
 berubah dan terus berubah tiap
akhir nafas



Namun kusadari
diriku yang diam
lebih buruk dari sebongkah tiang bisu;

Kutatap...
diam gunung-gunung lebih berarti
dariku\
diamnya bebintang jadi pelita malam
diamnya aku tergilas oleh waktu
Aku teriak perih. Langit
hanya tertawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kiriman Terkait